Sisa senja kemarin

Kelak berakhir, meski sudah melangkah paling hati-hati, Ada saatnya hati akan sakit kemudian sembuh sendiri. Namun lelah terus menerus terjebak pada repitisi yang sama. Seseorang datang, mendekat, bersama, sakit, lalu berujung aku, atau dia yang terluka. Kalo boleh memilih, aku ingin menggunting peta takdir, agar tak perlu melalui banyak hati, dan langsung sampai di pelabuhan terakhir. Tapi inilah perjalanan. Kaki bertugas melintasi, dan hati mempelajari apapun yang semesta beri. Sejuta tempat singgah, berkelana, hingga berdiam di titik lelah, masing masing dari kita pasti akan menemukan seseorang yang bisa disebut rumah. Bukan soal akhir, bukan soal awal, bukan bagaimana memulainya, dan bagaimana caramu mengakhiri. Tapi ini tentang menjalani, bertahan, dan mendewasalah dalam setiap pilihan. 

*a direct message from my best

Goresan kecil untuk sang jiwa


Teruntuk jiwa yang gaduh, riuh bergemuruh. Teruntuk raga yang dahaga di telaga kekeringan. Teruntuk sekeping hati yang pergi, kemari dengarlah.. Mari kemari, meski engkau telah menjauh… jauh sejauh jauhnya. Kembalilah..

Saat nuranimu pun terdiam, saat hatimu berhenti berbisik-bisik. Saat jiwamu tertindih kesedihan, terluka dengan duka-duka. Saat belantara dadamu itu terasa sesak dan rusuk-rusuk menghimpit. Saat-saat itulah kesanggupanmu untuk menjadi dewasa dididik, karena kita memang harus segera dewasa dan bersahabat dengan kehidupan ini. Kehidupan untuk satu kehidupan yang maha hidup.

Ada saatnya keramahan, ketegaran dan kebaikan yang nampak hanyalah ilusi. Dalam kejujuran hati lah tersimpan kemarahan dan kesedihan. 

Salam bahagiaku untukmu. Untuk kalian yang hatinya rendah dan hina di hadapan-Nya.

Saat terbaring atau berdiri, saat semua bersamamu atau saat tak sesiapapun peduli. Saat jiwa itu mulai terdiam, dan istananya tiba-tiba saja sepi, atau gaduh dengan kekhawatiran. Namun engkau masih tegar dan berdiri, menyendiri di sudut-sudut malam pelarian. 

Jika saja, pagi ini cahaya matahari tidak menemuimu di tempat yang biasa, maka pastikanlah bahwa ia tidak enggan menyapa. Ia senantiasa setia teguh dan patuh menerangi bumi, laksana nur-illahi yang hangat di setiap jiwa yang mengimani.

Ketahuilah matahari tak pernah enggan menyinari pagimu. Mungkin hari ini takdir lain sedang mencegahnya; awan.

Awanpun takdir-Nya. Maka bersahabatlah dengan mereka, karena semua adalah rencana-Nya. Mungkin awan baru saja melintasi petani di surau kecilnya memberi harapan hujan untuk ladangnya yang kering.

Jangan berprasangka pada-Nya, hanya karena engkau merasa jauh. Ketahuilah, sesungguhnya Rabb-mu tidak pernah menjauh darimu, sedetik pun. Tidak, ia tetap denganmu dengan ke-Maha Sabaran-Nya.

Jangan pula engkau merasa paling tawadhu, padahal disana engkau sedang takabbur. Merasa diri paling dekat. 

Bukankah Rabb-mu juga memberi kelonggaran kepada orang orang kuffar dengan hadiah-hadiah kehidupan di hari ini dan sebelumnya?

Tak usahlah peduli dengan mereka yang merendahkanmu. Sesungguhnya Rabb-mu ingin memuliakanmu dengan ke-Maha Muliaan-Nya. Maka segeralah, merendah kepada-Nya. Bertafakurlah di antara malam-Nya. Semampumu saja.

Tak usahlah bertafakur di tengah malam, jika matamu memang kalah mengantuk. Tak usahlah duduk duduk di pojokan masjid, menangis dan mengadu, jika memang dirimu tak mampu. Duduklah di tepian terjalnya tebing kehidupan yang hampir saja menjerumuskanmu. Ataukah saat ini engkau telah terjatuh di lembahnya?

Tak apa, jangan marah. Duduklah di sana dan pikirkanlah. Tanyakanlah kepada nuranimu. Benarkah dirimu telah bersih dari kotoran dosa-dosa? Hingga begitu angkuhnya dan merasa pantas untuk marah dengan musibah ini? Benarkah diri itu telah siap untuk kembali terbangun di alam mahsyar tanpa hisab karena begitu bersihnya?

Ingat kembali tentang berbagai keharaman-keharaman yang pernah atau masih kita lakukan, tentang kewajiban-kewajiban yang pernah kita lalaikan. Bukankah setiap dosa itu pasti dibalasi?

Sungguh.. Tuhanmu ingin mengurangi bebanmu di akhirat nanti saudaraku.

Lihatlah betapa kasih sayang-Nya yang telah meringankan api neraka dengan cicilan musibah ini. Yakinkanlah musibah ini hanya cicilan dosa saja, hanya cicilan Azab. Sakitnya tidak akan melebihi kematian.

Yah, ini hanyalah cicilan wahai saudaraku. Semua keluh kesah yang membasahi hati, itu pun dicatatkan sebagai pengurang dosa.

Jangan bodoh, jangan ingin mati. Mati bukanlah akhir dari penderitaan. Kematian hanyalah awal dari penderitaan abadi jika engkau tidak siap.

Marilah kawan.. Lihatlah dirimu , bukankah ini dunia? Apa yang engkau khawatirkan tentang dunia ini? Dunia ini hanya persinggahan, persinggahan bernama dunia.

Engkau masih berdiri dan bebas di sini. Dirimu masih di dunia, lihatlah dan bersyukurlah. Disini tidak ada tanah yang menghimpitmu. Atau gelap yang membutakanmu. Udara masih gratis. Ini adalah dunia. Dunia yang sering kita dustakan nikmatnya.

Kita masih di dunia kawan, bukan di kuburan. Matahari masih di sana, di tempat yang biasa meski awan menutupinya.

Tersenyumlah meski sakit. Merintihlah, mengadulah kepada-Nya. Rintihanmu memanggil-Nya adalah dzikir. Dzikir adalah mengingat-Nya. Mengingat Rabb yang sering kita lupakan.

Padahal Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda, bahwa “Tidak ada hal yang disesali penghuni syurga kecuali satu jam di dunia yang mereka lewati tanpa mengingat Allah..”

Ingatlah lagi pesannya, bahwa “Jika Allah mencintai hamba-Nya maka Ia akan ditimpakan musibah agar Dia mendengar rintihannya..”

Agar kita merintih mengingat-Nya.

Tidak ada kekhawatiran tentang dunia ini saudaraku. Kesabaran itu harus dilatih, dan pelatihan ini tiada akhir. Hamparan dunia ini adalah medannya, medan untuk menguji kesabaran agar kita menjadi benar-benar teruji dan berkualitas tinggi. 

Selalu ada kegaduhan di awal cerita tak terduga yang menghampiri kita. Tapi di ujung kesabaran itu sesungguhnya ada nikmat. Di tengahnya ada cahaya harapan. Lamanya rentan waktu penantian.. menanti nanti pertolongan Nya adalah ibadah. Sungguh para malaikat tak pernah lelah mencatatnya sebagai satu ibadah kita yang sempurna disisi-Nya. 

Jika tidak dengan guncangan dan musibah-musibah itu, lalu hal apakah lagi yang akan mengingatkan kita? Inilah hal-hal yang seharusnya semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Lihatlah dua merpati yang sedang dibelai cinta. Bukankah mereka juga ingin selalu dekat dan berdekatan?

Begitulah para salihin menyikapi musibah saudaraku. Mereka menjadikan musibah demi musibah itu sebuah medan. Sebuah ajang untuk bermesraan dengan-Nya dalam rintihan. Mereka terhanyut hanyut berduaan, beralaskan rintihan menuju lautan ridha-Nya.

Sungai kehidupan ini tidaklah lurus saudaraku. Ia berliku dan tak terduga. Kadang berbatu, kadang terjun menurun. Kadang tenang, kadang rusuh bergemuruh. Kadang gemericik, kadang mendebarkan. Kesemuanya adalah ujian. 

Bagi jiwa yang mengetahui bahwa lika-liku itu adalah iradah-Nya, mereka tidak akan pernah mengeluh. Mereka yakin, bahwa semuanya akan berakhir di pantai nan indah. Pelabuhan terakhir yang telah dijanjikan-Nya sebagai balasan bagi mereka yang bersabar.

Sering memang, hidup ini terasa begitu melelahkan. Penantian itu memang teramat berat, hingga Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam menghibur kita dengan mutiara katanya yang menggembirakan bahwa “Penantian seorang Muslim menanti-nanti kelapangan itu telah dicatat sebagai ibadah..”

Satu ibadah yang sempurna di sisi-Nya saudaraku.. 

Intiplah rahasianya. Pasti ada hikmahnya. Lalu nantikanlah.. Di antara gelapnya suasana, di sana ada cahaya membimbing senyum di wajahmu,.. 

Segera setelah musibah itu mereda, di sana bahumu semakin kokoh dan tegap berdiri. Kakimu tegak dan siap melangkah, wajahmu menunduk dan hatimu tetap basah, bertasbih bersama semesta.

Di sanalah rekahan kebahagiaan memancar dari hatimu. Laksana pelangi di penghujung senja.

Bukankah alam melukis pelangi dari riuh-riuh gemuruh hujan dan cekaman halilintar?

Pelangi kebahagiaan adalah hadiah bagi mereka yang lulus. Mereka yang sering berdiam menanti akhir yang indah. Terus bersabar meski sukar.

Tak usahlah mengeluh atas duka duka dan kepedihan. Engkau tidak sendiri kawan, semua jua sedang menanti sang pelangi.

Jika saja kekasihmu tidak bersamamu lagi, di ujung sana masih ada kawan yang menantimu kembali.

Kembalilah kawan, anggaplah pena ini sahabatmu. Sahabat yang baru saja menepuk bahumu, sahabat yang merindumu kembali. Anggaplah pena ini sahabat yang menghampirimu dalam gelap. Seorang yang membawakanmu lilin dan menyalakannya untukmu. Sosok yang mencoba meraih bahumu, membisikanmu, menunjukkanmu, bahwa di sana masih ada jalan.

Anggaplah pena ini sahabatmu, Seseorang yang meraihmu dengan tulus saat bibirmu nanti mulai berkata-kata, “yah, hidup ini memang tidak mudah..”

Sahabat yang tidak menertawakanmu saat engkau salah, yang membenarkanmu saat semua seperti menyalahkanmu. Sahabat yang senang duduk bersamamu saat dunia dan semua seakan menyalahkanmu. Sahabat yang menitikan air mata saat engkau hampir menangis.

Anggaplah pena ini sahabatmu. Sahabat yang tidak pernah menyalahkanmu. Sahabat yang ingin memahamimu ketika dirimu marah. Sahabat yang tidak mampu tersenyum saat dirimu murung. Sahabat yang tak sanggup tertawa saat engkau terluka. Sahabat yang ikut terluka saat kakimu melemah dan terjatuh. Sahabat yang ingin mengingatkanmu lagi tentang masa masa dulu, ketika bahumu tangguh menatap harapan, menuntunmu lagi, melembutkan hatimu, mengingatkanmu saat-saat seperti dulu, ketika engkau terduduk di pojokan masjid menangis memohon ampunan atas dosa dan kesalahan. Sahabat yang ingin menegur dan mengingatkanmu, berdoa di belakangmu, membersihkan namamu dan duri yang menusukmu.

Mari sahabatku, engkau mungkin tak pernah mengenal jari siapa yang lancang menasihatimu ini. Namun bersaudara itu adalah pesan mulia dari panutan kita, Rasulullah Sholallahu Alaihi wa sallam. Mari berjalan berdampingan. Mencari oase di tengah gersangnya kehidupan.. Menuju keabadian.

Sahabat jauh yang mungkin tidak pernah engkau kenal. Sahabat yang bahkan tidak pernah bertemu dalam tatapan. Sahabat yang menatapmu dari kejauhan.

Bukan, aku bukan sahabat sejatimu. Karena sosok itu mungkin tak pernah ada di semesta fana ini

Benar kata Syaikh ‘Athaillah, “Sahabat sejati itu tidak ada kecuali dia yang paling tahu aibmu, dan tidak ada sahabat seperti itu kecuali Tuhanmu Yang Maha Pemurah..”

Anggaplah ini sahabatmu, sahabat yang membenarkanmu, saat semua seperti menyalahkanmu. Semoga persahabatan ini diberkahi-Nya. 

Lupakanlah siapa penulisnya, namun dengarkanlah gemericik bisikannya.

Analogi dan diksi sederhana ini, sengaja kualirkan melalui jari, dari danau ketenangan di hatiku untuk kebahagiaanmu.

Aku,

just share

tumblr

Pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan hanya sekadar rasa nyaman, bukan sekadar teman mengobrol dan bercanda. Bukan seseorang yang sangat kita cintai dan mencintai kita, hingga mau melepaskan mimpi-mimpinya demi bersama kita. Bukan hanya seseorang yang membuat kita menjadi lebih baik, karena baik dan buruk itu sangat relatif. Menurut siapa, kata siapa, berdasarkan ajaran yang mana.

Tapi seseorang yang mempunyai tujuan hidup yang sejalan, keinginan-keinginan yang serupa, dan memprioritaskan hal(-hal) yang sama.

Seseorang yang punya mimpi yang sama dengan kita, yang berusaha mewujudkan semua angan menjadi nyata. Tak boleh ada yang merasa terpaksa menguburkan mimpinya hidup-hidup.

Persamaan semacam itu lebih penting ketimbang persamaan lainnya, menurutku. Kecuali jika ternyata persamaan-persamaan lainnya adalah prioritas utama.

Menurutku sih begitu.🙂

Kelahiran dan kematian begitu sering disaksikan.
Ada tangis berganti senyum, ada senyum berganti tangis, Berhelai pucuk daun tumbuh ketika daun daun tua jatuh gugur, hidup Fana menuju Baqa.
Betapa manusia mendambakan keabadian yang penciptanya sendiri telah siapkan keabadian yang sesungguhnya.
Berserah atas kuasa pencipta atas semua, karna kuasa manusia adalah milikNYA ☺

View on Path