Kita Hanya Perlu Yang Cukup

Kalau kita terus menerus mencari yang terbaik. Mungkin, kita tidak akan pernah selesai membanding-bandingkan. Kata guruku, segala yang baik itu adalah yang tumbuh ke arah kebaikan. Tidak ada yang benar-benar terbaik, yang ada hanyalah yang bersedia untuk terus memperbaiki dan diperbaiki.

Lalu bagaimana kita bisa menentukan? Kata guruku, dasarnya adalah kecukupan. Manusia bisa jadi memiliki ribuan pakaian, tapi dia hanya bisa memakainya satu. Bisa jadi memiliki ratusan piring makanan dalam satu meja makan, tapi dia hanya akan bisa menghabiskan beberapa saja.

Ambilah secukupnya. Karena yang cukup itulah justru yang bisa memberikan kenyamanan. Bisa memberikan ruang gerak untuk terus tumbuh, untuk terus memperbaiki diri.

Pada akhirnya memang kita hanya perlu yang cukup. — @kurniawan_gunadi

Sadar atau nggak, pada akhirnya kita memilih seseorang (sahabat, pasangan) berdasarkan kekurangannya. Pada akhirnya.

Pada tahap awal perkenalan atau pendekatan, biasanya orang hanya menunjukkan sisi-sisi baiknya saja dan menyembunyikan kekurangannya. Namanya juga masa promosi… Tapi setelah sifat-sifat aslinya mulai bermunculan, saat itulah sebenarnya sebuah pilihan mulai dibuat: teruskan, atau hentikan. Ini sangat wajar dan manusiawi.

Lalu, kita selalu meminta orang lain menerima kita apa adanya. Ya nggak bisa begitu juga sih. Kita bisa nggak menerima orang lain seada-adanya? Permintaan ini baru bisa dikabulkan ketika si orang lain menganggap kekurangan-kekurangan kita masih mampu dia toleransi, yang artinya melalui sebuah proses. Nggak bisa langsung.

Mungkin ada teman yang asyik diajak nongkrong, tapi dia nggak pernah tepat waktu. Selalu ngaret. Kalau kebiasaannya ini bisa kita terima karena dia teman yang sebenarnya sangat asyik, ya hubungan pertemanan akan berlanjut. Kalau nggak ya goodbye, sayonara, adios.

Atau ada gebetannya yang meski pun tinggal di luar kota/negeri/benua, tapi dia selalu atentif dan mengerti caranya menjaga komunikasi. Jarak akhirnya nggak menjadi kekurangan ketika kita pernah berhubungan dengan seseorang yang tinggalnya sekelurahan dengan kita, tapi nggak pernah menunjukkan perhatian.

Atau juga, ada yang kaya raya tapi pelit dan penuh perhitungan. Kalau kepelitannya dapat dikalahkan oleh pesonanya, mungkin kita tetap akan menerimanya dan menganggap pelitnya bukan hal penting.

Kesimpulannya adalah: kekurangan adalah filter, dan nggak selalu bermakna buruk. Yang akhirnya memutuskan tetap bersama kita adalah mereka yang mau dan mampu menoleransi kekurangan kita, bukan mereka yang memuja kelebihan kita. Masa promosi nggak berlangsung selamanya kan? Rugi nanti bandarnya. :))

“Dia baik sih, tapi…”
“Meski pun dia bukan tipe gue, tapi…”

See?

Even The Beast could win Beauty’s heart, and that only happened when Beauty found that his ugliness was acceptable, not because he was a perfect gentleman.

Nobody’s perfect, anyway.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s