Sepuluh sebelas

zutara__hold_me_tight__by_emocutie1997-d4i60zr.jpg

Sepagi tadi angin menertawakanku yang sedang asik berbincang pada shubuh, bunga bunga resah melihatku mencaci diriku sendiri. Sesal tak kunjung berujung, dan sedih yang  tak juga usai, Sungguh akulah sejatinya pendosa. sambil menanti mentari kubuka blog dan kutemukan tulisan ini, tulisan rindu. iya, masih tentang merindu

Semakin lama rindu, semakin aku tahu bagaimana cara untuk membunuhnya. Membunuh rindu itu. Bukan dengan mencekik lehernya dengan seutas tali yang terbuat dari daftar hal-hal buruk yang pernah kaubuat untuk menyakitiku, baik sadar mau pun dengan sengaja. Juga bukan dengan menabraknya keras-keras dengan kendara yang terbentuk dari bayangan-bayanganku tentang pengkhianatanmu.

Aku membunuh rinduku dengan membiarkannya menggila, hingga virus gila itu – entah dengan cara bagaimana – ikut menularimu. Membuatmu rindu, bukan saja denganku tapi juga dengan dirimu sendiri saat bersamaku.

Sejahat dan sebengis itulah caraku membunuh rindu.

Dan rindu membalaskan dendamnya dengan cara membuatku semakin rindu. Rindu yang membuatku terjaga, sekaligus lemas karena seluruh sumsum tulangku dan syarafmu meneriakkan namamu, sementara ragaku dikuncinya dalam peti.

Rindu memang tak pernah mau memberi ampun. Sebagaimana dia menyiksaku, aku tahu dia pun akan selamanya menyiksamu. (semoga saja terus begitu)

Hey You! Ya memang aku bodoh pernah percaya pada janjimu. Tapi kau lebih tolol karena melepaskan orang yang setulus aku dalam mempercayaimu.

Dan aku membenarkan ini, hal hal yang mungkin tak kau sadari :

Biasanya yang lebih menyayangi  akan selalu mengalah.
Biasanya yang lebih menyayangi akan sering di kecewakan dengan harapan-harapan yang ia bangun sendiri.
Biasanya yang lebih menyayangi akan lupa untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Dan biasanya yang menyayangi, lebih merelakan dirinya untuk di sakiti, daripada melihat kesayangannya pergi.

Tuan, Cintaku padamu sungguh keterlaluan, apapun kuberikan hingga tak lagi ada yang tersisa dalam genggaman, hingga logikapun ku kalahkan. Dan caramu menyakitkan, itu sungguh berlebihan.

Entahlah, Paling tidak, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyakiti hati siapapun, tidak membalas sikapmu yang begitu menyayat hati, pun tidak membalas segala kekejamanmu. Meski, aku masih dalam tahap belajar mengikhlaskan. Kesedihan yang melanda seperti barisan pisau tajam yang menusuku bertubi-tubi. Tapi, aku tetap berdiri dan tersenyum; seperti tak ada satu pun masalah di dunia ini yang bisa membuatku jatuh bertekuk lutut.

-Aku, ayangnya kamu yang keberadaannya tak kau anggap

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s