Di penghujung bulan Oktober


Demi rindu yang tidak pernah sanggup aku sampaikan, yang hanya bisa menyimpannya seorang diri, yang begitu sungkan dikeluhkan, yang aku perjuangkan sendirian, yang tidak pernah luput kutitahkan pada tiap do’a, serta yang kuharap kelak akan berbalas.Aku masih dengan perasaan yang sama, bahkan bisa kukatakan lebih. Perasaan yang kuletakkan pada sisi tertentu di hatiku, bahkan yang terkadang rasa sakitnya harus kusisipkan pada senyumku. Pada raga yang tampak ceria ini, mungkin tawaku bisa menggelak, dengan senyumku yang tak pernah henti mengembang dan candaku yang bisa menghibur siapa saja. Sayangnya, hatiku tidak sedang sebahagia itu.

Demi rinduku yang pandai menepuk angin, yang tidak pernah tahan oleh sakitnya pengabaian, dan yang meski berjatuh-jatuh kali tertimpa tetap tegar berdiri di sana.

Aku masih dengan posisiku sebelumnya, aku masih berada di depan pintu yang sama, dan aku masih mengetuk dengan cara yang sama. Inginnya, aku bercerita banyak setelah pintu itu terbuka olehmu. Sayangnya, pintu tidak pernah terbuka, bahkan cerita yang ingin kusampaikan selalu terhenti pada percakapan sederhana. Aku tahu, cinta memang sehebat itu membuatku kelu. Aku masih bersyukur cinta tidak sanggup membuat lidahku kaku mengucap namamu dalam do’a.

Demi rindu yang setia tertulis dalam ingatanku, yang tidak pernah kubiarkan berbalik arah, yang aku teguh menyebutnya sebagai tempatku menuju, dan yang meski pintunya selalu tertutup untukku, aku masih kokoh berdiri di sana.

Kamu mungkin sungguh tidak beruntung, dicintai oleh wanita sepertiku. Kamu bisa melihat bagaimana aku meletakkan yakinku padamu, tidak dari segala yang aku tulis dan aku ucap. Seluruhnya bisa kamu lihat kemana langkahku tetap tertuju. Dan pada saat yang sama, do’aku menyampaikan pintaku pada langit, agar langkah kita dapat berjalan beriringan nantinya.

Maaf jika ini semakin saja membuatmu risih, aku mungkin tidak akan pernah pantas untuk ada di sisimu. Namun, jika kamu membutuhkan alasan, kamu tidak akan menemukan alasan apapun untuk mencintaiku sebanding wanita di luar sana.

Mungkin seperti itu takdir yang ada, yang meminta belum tentu akan menerima, tetapi yang memberi kelak pasti akan menerima.

Jika suatu hari nanti kamu merindukanku juga, biarkan aku mengetahuinya. Sebab aku tahu, bagaimana perihnya menahan sebuah rindu.

bulan Oktober sudah habis, hujan yang datang akan lebih deras dari yang kemarin-kemarin. Andai kamu tahu, mungkin kamu satu-satunya hal yang membuatku ingin bangun sebelum sepertiga malam.

Besok-besok, kalau keluar selalu dibawa jaketnya. Jangan lupa bulan depan masih musim hujan.

-AFB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s